This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 08 April 2016

Sejarah Aceh dan GAM

 


Sebagai orang Aceh, dan salah satu manusia yang merasakan kepedihan ketika konflik di Aceh, wajib rasanya bagi saya untuk sedikit mecari dan menulis tentang kausalitas terjadinya peristiwa berdarah dan munculnya kelompok separatis yang dinamakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

GAM atau yang biasa kita kenal dengan Gerakan Aceh Merdeka adalah satu semangat yang menuntut janji pemerintah RI. Mungkin tidak semua orang tahu peristiwa awal mula gerakan ini, dan bahkan mereka yang mengikuti gerakan itu juga belum tentu tahu. Pada hakekatnya, GAM atau gerakan separatis semacamnya itu tentu saja disebabkan oleh sesuatu hal yang sangat berpengaruh bagi masyarakat, mustahil gerakan semacam ini lahir dan bertumbuh karena sesuatu hal biasa-biasa saja. Kalau kata orang sih, Aceh sudah merasa dirinya sudah bisa berdiri sendiri dengan sumber daya yang ada. Sebetulnya, bukan dari sudut pandang itu Aceh ingin memberikan protes kepada Pemerintah RI, justru ada faktor lain yang lebih besar.

Semua orang tahu Aceh ini sangat berbudaya dan menjalankan syariat Islam, bahkan dunia pun kagum dengan hal ini. Selama Nusantara dijajah Belanda, adakah buku sejarah yang mengatakan Nanggroe Aceh Darussalam sebagai Negara yang berdaulat? sayangnya tak pernah disebutkan dalam buku sejarah manapun. Jauh sebelum NKRI berdiri, Nanggroe Aceh Darussalam telah berdaulat sebagai sebuah kerajaan yang merdeka. Sebetulnya Aceh tidak pernah mendapatkan serangan dari negara manapun, karena Aceh merupakan daerah yang berdaulat secara hukum dan dibawah kerajaan Khalifah Turki Utsmani. Aceh tidak pernah diserang siapapun!!
Lalu kenapa Aceh terlibat perang di Nusantara? ini dia kronologinya...

https://habibiik.blogspot.co.id/2016/02/mengenal-sisingamangaraja-xii-dan.html

Jadi fix ya, NAD mau terlibat perang hanya untuk membantu kerajaan tetangga, dengan syarat membantu NAD menyebarkan Agam Islam. Soekarno sebetulnya tahu awal mula terlibatnya kerajaan NAD terhadap perang Sisingamangaraja XII yang telah menjadi muslim. Inilah yang dimanfaatkan Soekarno, dia berjanji akan membantu penyebaran Islam jika NAD mau terlibat perang.

Perjanjian antara Soekarno dengan Daud Beureuh pun sudah jelas, saat berkunjung ke Aceh tahun 1948, Soekarno dengan sengaja menemui tokoh Aceh, Daud Beureuh, Soekarno selaku Presiden RI menyapa Daud Beureuh dengan sebutan "kakak" sebutan yang biasa untuk para Pemimpin. Soekarno sengaja mendekatkan diri dengan kerajaan NAD untuk menggalang pasukan demi mempertahankan NKRI, Soekarno belajar dari cara negosiasi Sisingamangaraja XII agar NAD mau membantu NKRI.
Setiap perjanjian, tentu ada syarat yang disepakati bersama, dan Daud Beureuh pun mengusulkan syarat tersebut ke Soekarno untuk membantu menyebarkan Islam. Soekarno tentu saja setuju, buktinya saat ini Aceh masuk dalam NKRI, padahal sebelumnya NAD bukan NKRI.

Apa sih sebetulnya pembicaraan Soekarno dengan Daud Beureuh? Soekarno meminta bantuan Daud Beureuh agar Rakyat NAD turut andil dalam perjuangan bersenjata antara RI dan Belanda, Daud Beureuh pun setuju dengan ajakan Soekarno tersebut asalkan perang yang diperjuangkan Aceh adalah perang Sabil atau perang "fiisabilillah" yaitu perang yang jika dalam peperangan itu disebut mati Syahid bagi umat Muslim. Janji Soekarno pada Daud Beureuh adalah menyebarkan Agama Islam di Indonesia, sama seperti janji Sisingamangaraja XII kepada NAD. Sayangnya janji Soekarno dilanggar, dan Aceh hanya mendapatkan Daerah Istimewa dari Indonesia.

Itulah sebabnya ada Gerakan Aceh Merdeka. GAM ini ingin menuntut janji Pemerintah Indonesia, Namanya juga Pemerintah, sering sekali janji itu hanya sebuah wacana yang besoknya bisa dilupakan begitu saja.

Sebetulnya, Aceh ingin menuntut janji melalui Gerakan Aceh Merdeka, tapi sayangnya Pemerintah malah menobatkan mereka "Teroris", dan sampai saat ini saya masih tidak setuju penobatan GAM sebagai Teroris, dan ini juga termasuk Konspirasi. Sebenarnya julukan teroris itukan diberikan Pemerintah, Pemerintah sengaja melabeli mereka teroris, tahu kenapa? alasan Pemerintah melabeli GAM sebagai teroris karena Pemerintah ingin mengingkari janjinya dulu.

Seperti itulah aksi yang dijalankan oleh GAM hingga pada akhirnya mereka dinobatkan sebagai Teroris di Negaranya sendiri. Akar permasalahan perjuangan GAM itu sendiri ingin menagih janji yang tak pernah disebutkan dalam sejarah. Sejarah adalah peristiwa yang seharusnya dicatat dengan benar, miris!! peristiwa faktual seperti ini malah dikaburkan.


Terimakasih......

Senin, 14 Maret 2016

Pesona Ekspresi Cinta




Pemuda perkasa itu bernama Ali bin Abi Thalib, ia pemberani, tangguh, bahkan dia dikenal sebagai (pembanting). Namun apa yang terjadi ketika cintanya berbicara pada Siti Fatimah binti Muhammad? "Cinta tidak harus memiliki" Ya, kira-kira begitulah yang timbul dibenaknya. Keberaniannya dalam mengekspresikan cinta ke Fatimah lebih berat daripada menghadapi musuh seribu orang, ia lemah tak berdaya.

Hingga suatu saat keberaniannya memuncak, jiwa yang rapuh tersontak mengeluarkan energinya, dan cinta-pun tersampaikan.Fakta bahagia yang membuat pemuda miskin ini bukan ketika gadis terhormat itu menerima uluran cintanya, tapi ketika rasa yang sudah menguning itu dapat di ekspresikan dengan sempurna. "Sungguh ini sebuah keberanian yang hakiki bagi saya" Kata Sayyidina Ali.
Selalu begitu, cinta membutuhkan kata, tidak seperti rasa-rasa yang lain, cinta lebih membutuhkan kata daripada maknanya, keberanian mengungkapkan cinta adalah ekspresi paling pesona, itu sebabnya ada surat cinta, ada puisi cinta, ada lagu tentang cinta, dan cinta jua yang melahirkan penyair-penyair penuh sastra.
Bagi jiwa yang tidak punya mentalitas untuk mengekspresikan cinta, maka mereka akan bersemayam pada nestapa, atau pada bait doa, hingga semua diserahkan kepada sang sutradara jagad raya.

Memang begitu, cinta di takdir dengan kata tanpa benda, ringan, namun cukup berat untuk mengekpresikannya. Apalagi ketika cinta bertunas pada jiwa-jiwa yang lembut, jiwa-jiwa yang lemah, jiwa-jiwa yang memilih bercerita pada kebatinan daripada harus mengungkapkan. Seperti pada jiwa wanita.. Kelembutan cinta pada jiwa wanita tanpa ada keberanian untuk mengungkapkan. banyak dari mereka yang tidak mampu mengekspresikan cinta hingga cinta membunuh mereka sendiri, seperti Maria "dalam Ayat-Ayat Cinta", seperti cinta Nayla pada Ramadhan, yang menyimpan fakta cintanya di kamar peraduan, tiap malam Nayla hanya meratap dengan kenangan, penuh kesedihan, dia hanya berharap cintanya akan tersampai oleh cahaya dewi malam.
Seperti kata peribahasa melayu "Mustahil perigi mencari timba" kata keramat yang diagungkan oleh para wanita, hingga menjadikan kata itu sebagai perisai "harga diri", dan melahirkan slogan "tidak mungkin wanita yang mengungkapkan lebih dulu".
Namun ternyata mereka lupa bercermin pada keagungan Siti Khadijah, wanita janda ini memberanikan diri untuk mengungkapkan cintanya kepada pemuda terhormat Muhammad bin Abdullah, ia tak peduli konsekuensi yang akan dihadapinya.karena cinta adalah kata, dan setiap kata cinta harus tersampaikan tanpa perlu menguraikan makna yang mendalam.
Maka sampaikanlah walau hanya dengan kata: "I love You", itu saja!!


Intermezzo..Wahai para Ladies.. Adakah yang ingin seperti khadijah? Yang lebih dulu mengungkapkan cintanya kepada Muhammad?

Senin, 15 Februari 2016

Mengenal Sisingamangaraja XII Dan Hubungannya Dengan Kerajaan Aceh



     
Ada yang tahu Sisingamangaraja? Kerajaan tetangga Aceh dari Sumatera Utara? Saya kira semua orang tahu, tapi hanya sedikit yang mengenal akan sejarahnya. Di berbagai artikel-artikel sejarah sudah banyak yang membahas tentang Biografi atau sejarah kehadiran kerajaan Sisingamangaraja di Sumatera Utara, tapi itu banyak yang subjektif.

Di sini, saya hanya akan membahas hubungan antara kerajaan Sisingamangaraja XII dengan kerajaan Nanggroe Aceh Darussalam, karena salah satu pahlawan kemerdekaan Indonesia itu sangat berpengaruh bagi sejarah Aceh (NAD).

Oke, mari sekarang kita analisa terlebih dahulu apa arti dari nama  "Sisingamangaraja" atau si Raja Batak itu. Dalam sebuah buku yang saya baca, sebetulnya Sisingamangaraja bukan orang Batak, melainkan pedagang India yang berhasil menancapkan kerajaannya di SUMUT. Arti dari nama Sisimangaraja sendiri dalam kamus bahasa Batak "Si Singa Maha Raja" yang artinya Raja Singa. Orang Batak pada zaman sekitar 500 tahun lalu sama sekali tidak mengenal singa, karena di sana tidak ada singa. Arti si raja singa itu sendiri lahir pada sekitar 100 tahun yang lalu setelah masuknya pendidikan di Sumut dan Indonesia. Lalu dari mana orang Batak bisa menyebutkan kata "Si Raja Singa" pada raja mereka? Ini yang menjadi pertanyaan besar!!?

Sebenarnya, Sisingamangaraja bukan orang Batak, dia adalah pedagang India. Mau bukti? Oke, menurut cerita secara turun-temurun, Sisingamangaraja memiliki janggut yang lebat, janggut yang lebat ini merupakan ciri-ciri orang India. Dan bukti yang lain bisa kita lihat pada namanya, SISINGAMANGARAJA, jelas sekali nama ini merupakan nama orang India, namun orang Batak salah menyebutkannya. Nama ini begitu panjang dan sama sekali tidak ada spasi, sedangkan nama orang Batak itu pendek dan diikuti dengan nama Marga, kalaupun ada orang yang percaya Sisingamangaraja marga Sinambela, itu hanya Marga pemberian saja. Nama Sisingamangaraja yang sebetulnya adalah "Sing Maharaj", nama ini ternyata salah disebutkan selama berabad-abad. SING MAHARAJ? jelas sekali ini adalah nama orang India.

Menurut berbagai versi sejarah, hubungan Sisingamangaraja XII dengan kerajaan Aceh hanya pada soal hubungan perdagangan, padahal semua itu hanya omong kosong dan itu juga termasuk bagian daripada konspirasi sejarah. Sebetulnya, hubungan itu bukan hanya dari soal perdagangan saja, melainkan ada sebuah perjanjian/komitmen antara kerajaan Sisingamangaraja XII dengan kerajaan NAD. Dan, perjanjian tersebut adalah ketika itu Sing Maharaj XII meminta bantuan kepada kerajaan tetangganya, karena kerajaan Sisingamangaraja XII terlibat perang dengan pasukan penjajahan Belanda. Siapa lagi kerajaan yang bisa membantu? ya tentu saja kerajaan NAD.
NAD bisa membantu kerajaan Sisingamangaraja XII, namun dengan satu syarat!! Syaratnya adalah Sing Maharaj XII harus terlebih dulu masuk Islam. Perjanjian ini sebetulnya ditepati oleh Maharaj XII, sayangnya penyebaran agama di tanah Batak itu sangat susah, karena mereka sudah memiliki agama "Sipele Begu", bahkan penyebaran agama Kristen yang dibawakan oleh Nommensen di tanah Batak saat ini juga terbilang sangat susah. Sudah banyak Misionaris dimakan hidup-hidup oleh bangsa Batak saat itu, dan itu pula sebabnya penyebaran Islam gagal.

Kalaupun saat ini orang Batak ada yang beragama Muslim, itu karena mereka dekat dengan Padang atau Aceh. Secara Regional, Sumut itu sebetulnya termasuk agenda penyebaran agama Islam NAD, namun gagal. Lihat saja pulau Sumatera, hanya Sumut yang merupakan basis Kristen, seharusnya Kristen itu berada di daerah Timur, karena penyebaran Islam diagendakan untuk Sumatera, lalu ke Jawa, dan seterusnya.

Bukti bahwa Sing Maharaj XII memeluk Islam, selain dari laporan oleh para Missionaris Jerman dan oleh koran-koran Belanda, indikasi lain adalah :
* Sisingamangaraja XII tidak makan babi;
* Pengaruh Islam terlihat pada bendera perang Sisingamangaraja XII dalam gambar kelewang, matahari dan bulan; dan
* Sisingamangaraja XII memiliki cap yang bertuliskan huruf Jawi (tulisan Arab-Melayu).

Nah, inilah sedikit tulisan dari saya, jika ada yang salah mohon komentarnya!.




Selasa, 12 Januari 2016

Cinta Ibu.. Cinta Tanpa Definisi




"Seharusnya mereka bikin satu kata baru yang benar-benar bisa menjelaskan makna cinta di hati seorang Ibu. Satu kata di atas kata cinta, satu kata di atas semua kata yang pernah ada, karena kata cinta saja tidak cukup mewakili apa yang dirasakan oleh seorang Ibu". Noe menyebutnya dalam lagu.

Sebagian besar kebaikan yang kita saksikan dalam kehidupan kita, begitu sederhana kita melihatnya, namun terlalu agung jika kita memaknainya.

Seperti matahari.. Kau tak mampu menatapnya, kau hanya merasakan ketika sinarnya menyala-nyala menembus ke pelosok bumi. Kau akan berlindung ketika panasnya membakar kulit bumi.

Seperti hujan deras.. Kau tak mampu mencegahnya, kau hanya bisa menyaksikan kekuatannya membanjiri bumi, mendorong semua keangkuhan dunia, menerobos semua dinding kebencian pada jiwa.
Seperti pelangi.. Kau tak mampu mendekapnya, kau hanya bisa menikmati keindahan warnanya, variasi cinta yang begitu indah berpadu pada jiwanya.

Seperti itulah cinta seorang Ibu, cinta yang ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan darah dagingnya.

Di sini cinta tidak pernah buta, di sini seharusnya tidak ada kata cinta bertepuk sebelah tangan, di sini cinta mengharuskan adanya respon yang sama, namun apalah daya kita sebagai anak tidak akan mampu membalas cintanya.

Lelaki itu bernama Uwais Al Qarni, ia sudah mengabdi pada Ibunya sampai tuntas, kekuatan cinta dan baktinya terhadap sang Ibu hingga Allah menjadikannya terkenal di langit, ia sangat mulia di hadapan Allah. Namun apakah yang dilakukan Uwais sudah mampu membalas semua pengorbanan cinta sang Ibu?

"Tidak ada budi yang dapat membalas cinta seorang Ibu, apalagi mengimbanginya". Begitu kata Rasulullah.

Sebab cinta Ibu mengalir dari darah dan dagingnya. Anak memang buah cinta dua hati, tapi ia tidak dititip dalam dua rahim. Ia dititip dalam rahim sang Ibu selama sembilan bulan, di sana sang Ibu sudah mulai mempertaruhkan nyawa bagi sibuah hati, embrio bergeliat dalam sunyi sembari menyedot saripati sang Ibu, lalu keluar di antara darah. Inilah ruh yang baru, ruh yang dipertaruhkan bersama nyawa sang Ibu.

Lalu kemudian cintanya terus mengalir, semangat penumbuhan kasih sayangnya bekerja hingga masa depan anak lebih baik. Penat, lelah, jenuh, pengorbanannya tidak mengenal kata-kata itu, bahkan tak peduli angin membadai menerpanya. Sebuah fakta cinta yang lebih dahsyat, sang Ibu tidak pernah berharap agar kelak anak-anaknya bisa membalas semua jerih payahnya. Sungguh ini sebuah pengorbanan cinta yang paling suci, cinta yang paling luhur, seperti kayu yang rela menjadi arang asalkan api menyala.

Inilah cinta sesungguhnya, cinta tanpa tuntutan, cinta tanpa batasan. Tak ada kekuatan yang mampu membunuh cintanya, ini bukan hanya cinta sejati, tapi ini adalah cinta tanpa definisi.


Dan.. Karena hakikat anak adalah titipan Ilahi sebagai sumber kebaikan untuk dunia-akhirat, maka kita sebagai anak wajib berdoa yang terbaik untuk keduanya :

Allahummaghfir lii wa liwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayanii shaghiraa
"Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi aku di waktu kecil".

Ibu.. Tiada kata yang dapat kusampaikan selain doa dan terimakasih sudah memberikan pengorbanan cinta kasihmu di hidupku.. Bersamamu dan di sampingmu adalah surga kecil di dunia ini.




Rabu, 18 November 2015

Budaya Kapitalisme dan Nepotisme






Perkembangan Kapitalisme dan Nepotisme semakin meresahkan para pengangguran di Indonesia, kususnya saya!! Kenapa dengan saya? Selain saya berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan, relasi kurang dan nilai kelulusan yang rendah, saya juga tidak mempunyai keahlian(soft skill). Bahkan sampai saat ini saya masih menyandang sebagai tokoh PENGANGGURAN. Miris memang!!! 

SiAdul merupakan teman SMA saya, setelah menyelesaikan pendidikan SMA-nya, (Karena dia berasal dari keluarga borjuis) dia membuka sebuah usaha properti hingga kini penghasilannya cukup drastis. Reza adalah teman sekampus dengan saya, (Karena pamannya seorang pejabat birokrat), sekarang dia sudah menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil di salah satu instansi di daerahnya. Cukup dengan dua peristiwa kecil itu, mengindikasikan bahwa Kapitalisme dan Nepotisme adalah dua konsep yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan.


KAPITALIS

Kata seorang pejabat modern,"Kapitalis membuat Negara semakin maju, dan menjadikan rakyat lebih kreatif dan produktif dalam berusaha dan mengejar cita-cita" (tentunya agar rakyat tidak manja).
Terlepas daripada definisi dan sejarahnya, jika kita mau mencermati lebih luas, kemajuan sebuah Negara (dalam konsep kapitalis) belum tentu membuat rakyat sejahtera, bahkan praktiknya dapat menindas rakyat yang lemah, lihat kota-kota besar, pertumbuhan kriminal, pengangguran, pengemis, dan nilai-nilai sosial lain yang cenderung kurang diperhatikan. Melirik dari segi perkembangannya, Kapitalis juga gagal menciptakan manusia yang produktif, buktinya tidak semua manusia bisa menciptakan kreatifitasnya, baik yang berpendidikan, apalagi yang tidak. Lihat mahasiswa sekarang, hasil karya mereka begitu kurang, mereka hanya berlomba mengejar nilai kelulusan yang tinggi, katanya sebagai prestasi, tapi nyatanya tidak lebih agar mencukupi target permintaan perusahaan.Kapitalis itu sesungguhnya hanya menguntungkan bagi pihak yang memiliki modal/borjuis, sehingga terciptalah sebuah kesenjangan sosial, di mana yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin menjerit.

NEPOTISME

Berbicara soal konsep yang satu ini, saya kira nongkrong sampai sepuluh warung kopi tiap harinya, tetap saja sekedar bahan obrolan semata. Karena, virus praktik Nepotisme di Indonesia sudah sampai ke tingkat kelurahan, dan berjalan tanpa kritikan. Sejauh ini, pemerintah juga tidak ada membuat sebuah langkah serius untuk menghapus praktik ini, ironinya, pemerintah sendiri yang rajin membudayakannya.
Nepotisme memandang aturan dan prosedur hanya sebagai bahan pelengkap untuk sebuah syarat dalam mengikuti seleksi, padahal semua posisi yang dibutuhkan sudah diisi dengan nama-nama dari keluarga maupun kroninya (tanpa mempertimbangkan kualitasnya).Sementara kita lihat di dunia nyata, cukup banyak orang-orang yang cerdas dan idealis tidak ditempatkan pada posisi yang wajar, bahkan cenderung diabaikan, orang yang berlatar-belakang pendidikan tinggi, tidak ada arti bagi Nepotisme, tetapi cukup berarti bagi kapitalis, karena untuk dijadikan budak diperusahaannya.


KESIMPULAN 
Manusia yang menikmati kedua "aliran sesat" tersebut, merasa tidak penting lagi yang namanya pendidikan, bahkan kesenjangan sosial hanya sebuah bahan tontonan belaka.
Manusia dengan pendidikan yang rendah, modal yang lemah, relasi dan ahli(soft skill) tidak ada, menjadi seorang pengemis adalah alternatif untuk bertahan hidup. Sehingga tidak heran mereka berpikir bisa makan sekali sehari saja sudah hebat. Hidup itu bukan berbicara soal persaingan bro, seperti dalam teori Charles Darwin, di mana seekor singa bisa menguasai hutan karena fisiknya, melainkan manusia adalah makhluk sosial, konsep sosial adalah satu-satunya agar hidup lebih manusiawi, bermakna, dan sejahtera.